Kukira Rumah ternyata....
Halo, aku kembali dengan cerita lainnya~
Dulu, almarhumah mamaku pernah berpesan, "Nanti, kalau kamu udah nikah, kalau belum punya rumah, tinggalnya harus ngontrak atau bareng mama aja. Jangan ikut sama mertua kamu!"
Waktu itu, aku nggak terlalu anggap penting ucapan Mama. Kupikir itu cuma kekhawatiran yang nggak berdasar aja. Jadi, yaa... udah gitu aja. Lagian, aku juga masih sekolah, masih jauh banget pandangan buat nikah. Malah aku nggak terpikir kalau aku bisa nikah di usia 20-an.
Tapi, ternyata kehidupan masa depan memang nggak ada yang bisa nebak, ya. Aku nikah waktu usiaku 20 tahun dan mamaku meninggal dua tahun sebelumnya. Waktu itu, alasanku buat nikah, memang aneh, sih. Karena aku nggak mau tinggal sama kedua kakak aku yang udah nikah + bapak yang juga udah nikah lagi. Sebagai si bungsu, aku juga nggak dibolehin buat ngontrak, tapi kalau ada apa-apa juga nggak ada yang bisa dimintai tolong.
Contohnya, tahun 2016-2017, aku kecelakaan dan nggak ada satupun yang bisa bantu. Aku telepon kakak pertamaku, minta dia jemput aku. Tapi, dia nggak bisa, alasannya karena dia harus dagang. Padahal itu aku minta tolong, setelah kedua kalinya jatoh pada malam yang sama. Dan yang bisa bantu aku, cuma laki-laki yang waktu itu lagi deket sama aku. Dibilang pacar? Kayanya nggak, yaa. Soalnya dia nggak ada kepastian kalau dia itu pacar aku. Jadi, saat itu aku anggep dia temen aku aja, temen deket maksudnya.
Intinya, aku nggak suka tinggal sama keluargaku tapi aku juga nggak dibolehin nge-kos sendiri. Akhirnya, aku dan temen deketku itu nikah dengan alasan dariku yang emang nggak masuk akal. Tapi, kalau dia, katanya sih karena emang udah menemukan orang yang cocok sama dia.
Waktu sebelum nikah, kakak perempuan aku tanya, "Kamu mau tinggal dimana nanti?"
Aku jawab, "Di rumah yang di samping mamanya dia." Maksudnya, samping mertuaku.
Di situ, kakak aku ingetin berkali-kali buat nggak tinggal di sana. Tapi, aku kekeh karena aku mikir, udah nikah jadi harus ikut suami. Akhirnya, kami pindah beneran di samping rumah mertua.
Btw, sebenernya suami ngebebasin aku buat tinggal dimana aja sesuai dengan kemauanku. Tapi, aku nggak mau ngebebanin dia. Niatku seperti itu. Kupikir kalau di sini, kita bisa sambil nabung dan ngerawat rumah yang udah ada jadi lebih bagus. Ternyata kenyataan nggak sesuai dengan yang aku bayangkan. Aku jadi keinget kata-kata mamaku dulu. Harusnya, aku nggak tinggal di sini.
Cuma nasi udah jadi bubur, kalau mau jadi nasi lagi, yaa harus masak ulang dari beras. Jujur, nggak betah banget, bukan karena mertuaku jahat, dia baik tapi aku nggak ngerasa ini rumah. Walaupun katanya rumah ini nantinya akan jadi milik suamiku, tetep aku ngerasa kalau ini bukan rumahku. Mungkin, yang udah ngerasain, bisa paham maksud kalimatku.
Pesanku buat kamu yang udah belum nikah, ternyata tempat tinggal setelah nikah itu penting banget buat kalian bicarakan sama pasangan. Jangan karena pemikiran nggak mau ngebebanin pasangan, jadi nggak pikir panjang untuk ke depannya. Menikahlah kalau kamu dan pasanganmu udah siap. Jangan karena lingkungan atau tuntutan orang tua, atau alasan nggak masuk akal seperti itu, ngebuat kalian jadi tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Terakhir, semoga kita semua bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan besar dalam hidup supaya nggak ada penyesalan di kemudian harinya. Salam sehat mental~~
Bekasi, 19 Desember 2024
Vita
Komentar
Posting Komentar