Postingan

Ketika Lelah Menyerang hati dan Pikiran

 Ketika lelah menyerang hati dan pikiran, apa yang akan kalian lakukan? Jujur, udah beberapa kali mengalami hal seperti ini, sampai bosan rasanya. Bingung karena semua "keranjang" (orang terdekat) sudah diberikan "isi" (dicurhati). Mereka pasti juga akan bosan mendengarnya jika aku memaksa bercerita. Di situasi yang seperti ini, ketika mental health menjadi issue paling gawat, rasanya takut untuk bercerita ke psikolog/psikiater. Takut dirawat di RSJ wkwkwk Mau berhenti, tapi takut semuanya nggak tertangani. Mau jalan, tapi cemas karena semuanya nggak berjalan seperti yang diharapkan. Entah sudah berapa banyak doa yang kupanjatkan. Entah sudah berapa harapan yang kuucapkan. Tapi rasanya semua yang diinginkan dalam hati, tidak pernah didengarkan. Kadang terpikir, apa dosaku sebegitu banyak sampai Tuhan tidak berkenan untuk mengabulkan? Atau jangan-jangan sujudku masih kurang? Sedekahku belum banyak? Apa yang kulupakan? Entah harus bertahan sampai kapan. Rasanya ingin ...

Saksi Bisu Kelahiran Cerita-ceritaku

Banyak orang bilang kalau ide itu butuh tempat yang tenang dan mewah. Tapi bagiku, ide itu justru lebih  sering datang dari tempat yang sederhana dan tidak terduga. Contohnya, dari tempat duduk lesehan dan meja lipat seharga lima puluh ribu rupiah... Meja ini sudah menemaniku melewati ratusan bab penuh warna. Di mana ada cinta dan air mata di dalamnya. Di atas permukaannya yang masih tampak baru karena sering aku  rawat, aku membangun dunia yang tidak pernah terjadi di hidupku namun terjadi pada hidup para tokoh buatanku, padahal aku sering meringkuk di kamar, ruang TV sampai teras depan rumah. Kadang aku malu jika orang lain mengetahui bahwa "kantor pusatku" hanyalah meja lipat seharga lima pulih ribu rupiah. Tapi, meja ini seolah berbisik, "Tidak peduli darimana kamu merangkai cerita, namun karya yang kamu hasilkan jauh lebih hebat dari meja tempatmu membuatnya." Ternyata benar, bukan fasilitas yang melahirkan rasa, tapi hati yang membuat karya itu terlahir sempur...

Kukira Rumah ternyata....

     Halo, aku kembali dengan cerita lainnya~     Dulu, almarhumah mamaku pernah berpesan, "Nanti, kalau kamu udah nikah, kalau belum punya rumah, tinggalnya harus ngontrak atau bareng mama aja. Jangan ikut sama mertua kamu!"     Waktu itu, aku nggak terlalu anggap penting ucapan Mama. Kupikir itu cuma kekhawatiran yang nggak berdasar aja. Jadi, yaa... udah gitu aja. Lagian, aku juga masih sekolah, masih jauh banget pandangan buat nikah. Malah aku nggak terpikir kalau aku bisa nikah di usia 20-an.     Tapi, ternyata kehidupan masa depan memang nggak ada yang bisa nebak, ya. Aku nikah waktu usiaku 20 tahun dan mamaku meninggal dua tahun sebelumnya. Waktu itu, alasanku buat nikah, memang aneh, sih. Karena aku nggak mau tinggal sama kedua kakak aku yang udah nikah + bapak yang juga udah nikah lagi. Sebagai si bungsu, aku juga nggak dibolehin buat ngontrak, tapi kalau ada apa-apa juga nggak ada yang bisa dimintai tolong.      Conto...

Ujian Pernikahan

    Halo~ Coretan ini hanya sekedar iseng karena gabut nggak punya pekerjaan tetap.      Usiaku 27 tahun, aku adalah ibu dari dua anak. Yap! Aku sudah menikah, menikah muda dan tolong diingat bahwa aku tidak hamil di luar nikah . Keinginanku di usia 19 tahun sangat sederhana, yaitu menikah dan hidup bahagia bersama dengan suami dan anak-anakku. Alhamdulillah, Allah beri aku jodoh di waktu yang tepat. Dia adalah suami yang baik dan juga bertanggung jawab. Tidak pernah mengeluhkan semua sikapku yang kekanak-kanakan. Aku sangat beruntung punya dia di hidupku.      Waktu berlalu, pernikahan yang kami jalani bukan pernikahan mewah seperti yang saat ini banyak berseliweran di media sosial. Kami lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan anak dan tidak mempublikasikannya di sosial media. Hanya menjadikannya kenangan dalam galeri atau Google drive yang terkadang kukirim ke email anak-anakku supaya bisa memberikannya sebagai hadiah ulang tahun ke 17...